Trail Running Rinjani Altitude Run (RAR) 2014


Rinjani Altitude Run atau yang disingkat RAR adalah lomba trail yang diadakan di Gunung Rinjani, Lombok. Lomba ini dimulai dari Senaru hingga Plawangan Senaru dan kemudian kembali ke Senaru. Tahun ini, RAR diadakan pada hari Sabtu tanggal 9 Agustus 2014. Ohya, Pada lomba ini, terdapat dua kategori yaitu MRU (Mount Rinjani Ultra) sejauh 52km dan RAR (Rinjani Altitude Run) sejauh 21km. Dengan kategori MRU, kalian akan benar-benar mengitari Gunung Rinjani, dengan melewati Senaru-Plawangan Senaru-Danau Segara Anak-Plawangan Sembalun-Puncak-Plawangan Sembalun- Sembalun-Plawangan Sembalun-Danau Segara Anak-Plawangan Senaru-Senaru. Kaki saya ngilu mendengarnya. Jujur, untuk kita yang masih pemula, apalagi baru satu tahun latian trail, jangan berharap bisa finish karena MRU benar-benar trek yang luar biasa buasnya. Untuk yang penasaran bagaimana rasanya lomba trail, saya sarankan untuk mencoba kategori RAR. Karena pada dasarnya saya bukan pelari, saya juga tahu diri untuk tidak mengambil kategori MRU. Tapi untuk kalian yang penasaran ingin ‘berbicara dengan Tuhan’, sok atuh dicoba. :D

Pada hari Jumat pukul 09.00 WITA, kami tiba di Bandara Lombok. Dengan mobil yang sebelumnya sudah kita sewa, kita melaju ke Senggigi, menjemput Keyko dan menuju Senaru. Setelah 3 jam di dalam mobil, kamipun sampai. Tidak lupa pula untuk mengambil racepack dan menuju homestay.

Kami menginap di Rinjani Light House. Dan menurut saya homestay ini WOW. Di homestay kami, terdapat 4 kasur single dan 1 kasur double. Satu kasur double ini terdapat di dalam ‘sangkar’. Jadi kita mesti menaiki tangga kecil untuk bisa sampai ke dalam tempat tidur. Karena ada dua cewek yaitu saya dan Keyko, akhirnya kita yang mengambil tempat tidur ini. Di homestay ini kita disediakan dapur dengan bahan bakar dari biogas. Dapurnya juga dilengkapi dengan gula, kopi dan teh serta alat masak dan aqua galon. Homestay ini juga memiliki fasilitas kamar mandi dengan air panas. Dan tak lupa juga, free breakfast, loh. Mbak pengurus homestay-nya juga ramah.

Kami berenam yaitu Om Ari, Om Ayah, Mamce, Mas Bagus, Keyko dan saya berada dalam satu homestay. Om Ari dan Om Ayah mengikuti lomba MRU. Untuk kategoti MRU, lomba dimulai pukul 00.00 9 Agustus sehingga mereka berdua harus istirahat dari sore hingga pukul 22.00. Kita berempat pun ikut mengantarkan mereka ke garis start. Di garis start, tampak peserta MRU sudah ramai. Peserta dari berbagai negara ikut meramaikan lomba ini. Lomba pun dimulai, tampak para peserta mulai berlari dengan semangat. Kita pun turut bersorak gembira untuk para peserta yang mulai berlari. Kita pun kemudian balik untuk meneruskan istirahat karena kita akan mulai lari pukul 05.00 pagi nanti.

Pukul 04.00 kita mulai bangun dan bersiap-siap. Pukul 04.45 kita baru sampai di garis start. Jantung pun mulai berdegup kencang. Bermula bareng Keyko di garis start, sampai akhirnya kita pun terpisah dalam jarak yang cukup jauh. Kecepatan saya belum mampu menandingi Keyko. :D Dari awal kita udah prediksi, jalur yang akan kita lewati akan terjal tanpa sedikit pun turunan. Dengan prediksi ‘jalan cepat tanpa istirahat’, harusnya bisa mengantarkan saya bisa sampai Plawangan-Senaru dalam waktu 4 jam. Namun, di tengah perjalanan, betis saya dilanda kram yang mengharuskan saya istirahat agak lama. Peserta yang melihat saya cedera, memberi saya kapsul garam untuk meredakan kram. Sayang, tidak terlalu berefek untuk kesembuhan betis saya. Hihi. Setelah berhenti sejenak, saya pun melanjutkan perjalanan. Masih terlalu jauh saya untuk berhenti. Akibat tidak pemanasan, kram selanjutnya pun datang dan pergi. Hal ini mengharuskan saya untuk berhenti setelah beberapa langkah berjalan. Rasanya sedih berada di jalur tanpa satu pun yang kita kenal.

Sesampainya di batas vegetasi, ada seorang pria yang akhirnya menolong saya. Dia bukan seorang peserta lari, hanya pendaki gunung. Dia yang melihat saya berjalan sangat lamban, mendorong saya dari belakang agar berjalan cepat. Walaupun pada akhirnya saya tidak bisa berjalan cepat, paling tidak saat itu ada teman ngobrol. Sambil berkenalan, saya pun tahu dia asli bali. Tapi saya lupa namanya. :p Tak lama kemudian, pukul 11.00 WITA TADAAA !! Akhirnya tibalah saya di Plawangan Senaru. Setelah menikmati view keindahan Rinjani dari Plawangan Senaru, saya pun turun dan tidak lupa berterima kasih kepada Mas Bali yang sudah menjadi teman ngobrol. :) 

Ketika perjalanan balik, dengkul kanan saya cedera dan tidak dapat berlari menuruni gunung. Bahkan saya berjalan lebih lambat dibanding ketika naik. Dalam perjalanan menuju balik, saya bertemu dengan peserta lainnya. Dan saya pun lupa nama mereka :p Beruntung ada teman berbagi ketika turun. Finally!! Finish, pada pukul 16.24 WITA. Jauh dari COT, tapi dinikmati saja perjalanannya. Enjoy the moment! 

Nah, dari pengalaman saya mengikuti RAR tahun ini, saya coba memberikan kesan dan pesan kepada kalian yang mau mencoba ikutan lomba ini tahun depan. 
1. Jangan pernah mencoba-coba ikutan lomba ini bila kalian tidak pernah latihan rutin. Minimal sekali dua minggu cobalah tektok Gunung Gede. Teman saya yang sudah latihan rutin saja akhirnya Finish melewati COT. Sayang sekali rasanya kalau kalian jauh-jauh ke sini tapi tidak mendapat medali. 
 2. Lari di gunung sangat jauh berbeda dengan lari di road. Bisa jadi kalian yang terbiasa menempuh jarak 21km di road dengan pace 6 menit, jangan harap hal tsb bisa terjadi di trail. Banyak peserta yang mengikuti RAR karena mereka terbiasa menempuh 21km di road. Padahal, jalur yang dilalui sungguh sangat berbeda. Untuk latihan, cobalah tektok Gunung Gede dalam waktu 7 jam. 
 3. Siapkan medis. Seperti kasus saya yang tiba-tiba kram, minimal sediakan kapsul garam dan minuman secukupnya. 
4. Jangan lupa pemanasan. Gamau kan jauh-jauh dari Jakarta ke Lombok kemudian DNF (do not finish) gara-gara cedera ? :p 

Plawangan Senaru

yang penasaran dengan rute RAR dan MRU

Pulau Oar, Tetangganya Pulau Umang

Berhubung tanggal 12-14 September kemarin saya jadi tour guide-nya trip DKK travel dan sempat mampir ke Pulau Oar, yaudah sekalian aja saya bahas sedikit diblog tentang pulau mungil ini. Banyak banget yang nanyain pulau ini setelah saya share fotonya. Hihi :3

Pertanyaan pertama : Pulau Oar di mana sih, za ?
Masih daerah ‘jajahannya’ Ujung Kulon. Kalau yang pernah main ke Pulau Umang, pasti familiar sama pulau ini, karena pulau ini pas banget sebelahan sama si Umang :3

Pertanyaan kedua : Berapa jam dari Jakarta ? Sedan bisa ke sana gak ?
Kemarin dari Plaza Semanggi – Dermaga Sumur butuh waktu 6 jam. Sudah termasuk istirahat kurang lebih 45 menit. Dari dermaga sumur ke Pulau Oar hanya memakan waktu 10 menit kok. Itu kalau menggunakan kapal. Kemarin ada rombongan yang pakai sampan sampai 20an orang. Itu memakan waktu lebih lama lagi. Sampannya berjalan lambat gara-gara muatannya banyak. X))
Selama saya bangun dalam perjalanan, jalanannya sih mulus-mulus aja. Cuma naik turun bukit doang. Menurut saya, sedan masih bisa lewat kok. :D

Pertanyaan ketiga : Kabarnya Pulau ini masih milik Pulau Umang dan harus nginap di Umang kalau mau ke pulau ini, bener ga sih ?
Wah, kalau pulau ini milik Umang atau tidak, saya juga tidak tahu. Yang pasti bukan saya pemiliknya. Dengan penampakan yang saya dapat di Pulau Oar ini, menurut saya tidak harus menginap di Pulau Umang kok. Dan dengan adanya rombongan kemping di sini, berarti ga mesti nginap di Pulau Umang kan ? :D Lagipula, rombongan yang kemping di sini, wajah-wajah backpacker. Kemungkinan sih ga nginap di Pulau Umang.. X)) *kemudian dikeplak*

Di pulau ini kita bisa ngapain aja ?
  • Kemping (karena di sini tidak ada homestay)
  • Ngewarung (di sini tidak disediakan makanan berat, jadi siap-siaplah buat masak)
  •  Minum es kelapa
  • Snorkling (sudah disediakan alat snorkling di sini, bisa di sewa)
  • Banana boat selama 15 menit untuk 5 orang
  • Sewa boat (kalau kelebihan duit dan mau mutar-mutarin daerah sini)
  • Pacaran (bagi yang bawa pacar)
  • Prewed (bagi yang mau nikah)


Seru kan, seru kan ? :D Pulau ini kecil banget loh, lebih gede GBK. Yang punya hobi lari, mungkin mau latian lari di pulau ini, juga bisaaa. :p



Yuk, mari jelajahi Indonesia. J

Gunung Lawu

Jadi, ehem. Uhuk. Akhir bulan mei di tahun 2014 ini, ada libur tuh di hari selasa dan kamis. Dari jauh hari, kita sudah merencanakan untuk pergi jauuh banget karena ini adalah long holiday! Ga jauh-jauh amat sih, cuma sampai daerah Jawa Timur. Berawal dari kata ‘kangen Semeru’ dan akhirnya kita memutuskan ke Gunung Lawu. Hihi. Ga nyambung ya ? Iya. Sepanjang waktu mendekati hari H, terhembus kabar kalau ke Semeru mesti daftar online, pengurusan dan berbagai macamnya ribet. Lagipula, persiapan kita juga kurang. Akhirnya, kita memutuskan pergi ke Lawu karena sebelumnya kita membeli tiket ke madiun untuk singgah sebentar ke Ponorogo *tanya dong kenapa singgah ke Ponorogo* *uhuk*. Jarak dari Ponorogo ke Lawu tidak begitu jauh. Dengan mengendarai motor, kita sampai di kaki gunung dalam waktu kurang dari 2 jam. Jangan khawatir untuk menggunakan motor, banyak tempat penitipan motor dan juga jangan pada takut kelaparan sebelum nanjak karena di sana banyak yang berjualan makanan :D

Pukul 09.30 kita mulai trekking. Oiya, untuk memasuki Gunung Lawu, per orang dikenakan biaya Rp 5.000,-. Kita trekking dari Cemoro Kandang. Dalam waktu 1 jam kita sampai di Pos 1. Trekking menuju pos 1 tidak terlalu sulit. Hanya jalanan datar dan sedikit tanjakan. Begitu juga pos 1 menuju pos 2, hanya memakan waktu 1 jam. Ketika trekking dari pos 2 ke pos 3, kita memakan waktu terlalu lama untuk beristirahat dan mengobrol sehingga saya tidak terlalu menghitung lamanya waktu sampai di pos 3. Yang agak sulit itu perjalanan dari pos 3 ke pos 4. Jalanan berbelok. Namun, ada bagian tengah jalan memotong yang agak curam. Kita mengambil jalan itu agar tidak terlalu banyak memutar. Tapi, trek tsb sangat menguras tenaga. Tiap selesai 2 tanjakan, kita istirahat hampir 5 menit. Rasanya agak jengkel menuju pos 4. >…< Tapi, sesampainya di pos 4, seneng banget. Ada spot bagus buat foto dengan judul ‘negeri di atas awan’.
Negeri di Atas Awan
Kalau sudah melewati pos 4, penderitaan sudah berakhir. Hihi. Perjalanan dari pos 4 menuju pos 5 tidak seterjal sebelumnya. Bahkan banyak jalanan datar. Berhubung Lawu terkenal dengan adanya warung Mbok Yem, kita tidur di warung tsb. Lawu itu gunung untuk “bermanja”. Ga perlu bawa tenda, logistik, yang penting minuman dan cemilan selama trekking mesti disiapkan. Malam itu bisa saya nobatkan sebagai malam terhangat selama tidur di gunung. :P tapi tetap jangan lupa bawa sleeping bag dan matras untuk kenyamanan pribadi.

Paginya, kita memburu sunrise. Tidak terlalu jauh dari warung Mbok Yem untuk menuju puncak. Dengan berjalan selama setengah jam, kita sudah sampai di puncak. Sayang, sunrise tertutup oleh kabut. Setelah jam 7 pagi, kabut mulai hilang digantikan dengan pemandangan yang sungguh luar biasa. Bahkan, semeru pun terlihat dari Puncak Lawu. Trekking unyu kita selama 8 jam kemarin terbayarkan dengan indahnya pemandangan pagi itu. :D
Sunrise berkabut


Pukul 09.00, kita turun lewat jalur Cemoro Sewu. Lebih terjal dan lebih cepat sampai bawah. Yah, walaupun pada akhirnya tetap memakan waktu 4 jam untuk sampai di pos awal pendakian. Hihi. Jalur ini dari awal sampai akhir penuh dengan batu-batu. Jika salah langkah, dengkul yang menjadi korban. Jalur ini agak mirip Jalur gunung Gede via Cibodas tapi tidak serapi jalur Cibodas. Kalo kalian ingin ada tantangan untuk menaiki Lawu, silahkan melewati trek ini. Dijamin ‘seru’! hihi. Terima kasih Mas Rakha, yang sudah mau menemani saya trekking ke Gunung Lawu dan mendengar celotehan saya selama trekking. Lope you :3







Foto bareng Mas Rakha :3
Teman baru :)

Tebak ini di Pos berapa ? :p

Terima kasih Lawu untuk kenangan baru, teman-teman baru dan cerita baru :D  

Pulau Perak


Pada tau gak Pulau Perak berada di mana ? Ini adalah salah satu pulau yang berada di Kepulauan Seribu. Pulau yang hanya dihuni oleh satu kedai. Hihi. Kalo mau stay semalam di sini, mesti nenda karena tidak tersedianya penginapan.

Pagi itu, saya berangkat dari daerah Binus menuju Muara Angke dengan menggunakan ojek. Lumayan, kena biaya Rp.60.000 dengan waktu tempuh 45 menit. Hihi. Sampai di sana, dijemput oleh salah satu peserta trip, Adit untuk mencapai kapal yang diisi oleh para peserta. Biasanya, pukul 07.00 kapal sudah berangkat. Namun, kapal kali ini ngaret hingga 08.30 karena menunggu kedatangan saya kapal penuh. Saat itu ombak sedikit tinggi sehingga kapal sempat berhenti di sekitar Pulau Rambut. Sampailah kita di Pulau Harapan pukul 12.30.

Sampai di sana, kita makaaan. Perut sudah kelaparan. Hiks. Selesai beres-beres, kita lanjut snorkling. Spot snorkling yang dipilih berada di antara Pulau Macan dan Pulau Perak. Nah , inilah alasan utama saya ikut trip ke Pulau Perak. Snorkling :D Ini pertama kalinya saya snorkling. Daaan, tidak direkomendasikan. Airnya butek, pemandangan terumbu karangnya tidak jelas. Sekedar celap celupin kepala ke dalam air. Hihi. Ya, pengalaman pertama snorkling. Untung aja pertama kali snorkling di Pulau Seribu, kalau di Karimun Jawa kemudian snorkling di Pulau Seribu ? sakitnya tuh di sini! *nunjuk mata* *Setelah puas celap-celupin kepala ke dalam air, kita lanjut ke Pulau Perak.

Pukul 17.00 kita sampai di Pulau Perak. Seluruh peserta pria mendirikan tenda, sedangkan wanita sibuk mempersiapkan masakan. Saya ? sibuk foto-foto sama Om Reno :3 Mumpung senja, kapan lagi kita dapat momennya ? Tapi akhirnya saya bantuin juga kok. :3

Setelah itu, kita lanjut masak yang menghabiskan waktu 4 jam. :’D kita kekurangan kompor >,< Tidak sampai 10 menit, makanan ludes, udah keliatan seluruh jati diri mereka. Ahaha. Suasana pun menjadi hangat, kopi pun mulai dinikmati. Beberapa peserta mulai modus-memodus. Saya sih engga. Saya fokus. :3 Ketika saling bercerita, saya pun mulai tertidur di luar tenda, berselimut flysheet berbantal tissue. Namun kenikmatan tsb tidak berlangsung lama, sekitar pukul 01.00 dini hari, hujan mulai turun, kita semua sibuk membangunkan peserta yang tidur di luar untuk masuk ke dalam tenda. Kita ? engga sih, saya langsung kabur masuk tenda begitu dibangunkan *maaf kakak, ga ikut bangunin yang lain*.

Hujan pun berlanjut sampai pagi sehingga menutupi datangnya Sunrise *hiks*. Sambil menunggu datangnya kapal, kita berunyu-unyu dengan snorkling di pinggir pantai. Spot disini lebih jernih dibandingkan dengan spot yang sebelumnya. Tapi berhati-hatilah, ada banyak bulu babi yang menyebar di garis pantai. Adit menjadi salah satu korbannya. Pulang dengan hadiah ditumbuhi bulu babi di telapak kakinya :’)

Pukul 09.00 pagi, kapal datang menjemput. Dengan segera, kita membereskan peralatan dan menaiki kapal dan menuju Pulau Harapan. Beberapa peserta ada yang ingin beristirahat setibanya di Pulau Harapan dan sisanya ingin melihat penangkaran penyu di pulau sebelah, pulau nelayan.

Karena saat itu cuaca kurang bagus, kapal untuk menuju Muara Angke sampai pada pukul 14.30. padahal kata penduduk sekitar, biasanya kapal tsb sampai  pukul 13.00. yah, diakibatkan karena cuaca, kapal kita selama perjalanan mengalami penundaan. Hihi.

But everything’s fine karena ada kalian, teman nge-trip yang seru! ^.^ *cie gitu* See you when i see you guys. And thanks to Rekreasi Trip. J You’re awesome guys!

Pulau Perak, 21-22 Desember 2013



"Trail Run" Gunung Gede

Di suatu hari yang indah, saya galau *halah*. Iya, galau beneran. Dan ingin pergi jauh membuang seluruh kekesalan saya. Inginnya sih, pergi ke gunung sendiri aja. Namun, biasanya grup Unyu –salah satu grup diskusi WA- bakal marah kalo pergi ke gunung sendirian. Akhirnya saya meminta Bang Benny (singkatan : BB) ikut menemani –baca: paksa ikut. X)) Namun, malam itu belum tahu gunung apa yang akan kita tuju. Antara dua pilihan : Gede atau Ciremai. Untuk transportasi ke Gede, saya sudah cukup tahu rute-nya karena pernah ke Gunung Pangrango. Sedangkan ke Ciremai, saya belum pernah sebelumnya. Pikir-pikir lagi, akhirnya kita memutuskan untuk ke Gede via Cibodas.

Ternyata, di saat yang sama Om Ayah dan Mamce (duo pelari) ke Gede untuk latihan Trail Run. Beruntung, ternyata kita ada teman di sana. Saya yang tanpa persiapan –bahkan menggunakan sepatu crocs nekat untuk ikut mereka karena memang tujuan saya Puncak Gede. Start jam 7 pagi, kita mulai lari –eh, saya jalan ding dan ditemani oleh BB dan Mamce. Awalnya sih, kecepatan kita sama. Namun mulai di tengah perjalanan, langkah mulai melambat dan ditinggal Mamce. Tentulah saya yang sudah tak biasa olah raga ini tak sanggup berjalan lebih cepat. Terlebih, kaki sempat terkilir ditanjakan. Langkah demi langkah saya jalani, BB pun setia menemani. Rasa menyesal pun mulai datang. Entah kenapa memilih gunung sebagai tempat pelarian. Capek, kesal, marah semua jadi satu. Tapi udah terlanjur, ya hajar saja sampai ke puncak. Hihi.

Ketika melewati Kandang Badak, disitulah puncak maksimal dimana BB berada dalam keadaan lapar. BB yang dari awal hanya diam dan mengikuti langkah saya pun duduk dan mengambil roti. Selama setengah jam kita duduk sambil menikmati makanan karena BB tidak bisa makan sambil berjalan. Ia mesti menikmati makanan tsb. ^.^

Kita pun melanjutkan perjalanan hingga akhirnya mencapai Tanjakan Setan, tanjakan yang terkenal di seluruh kalangan pendaki. Namun sekarang sudah ada jalan alternatif yang lebih mudah dilalui dibandingkan Tanjakan Setan. Saya pikir, setelah Tanjakan Setan, jalur yang dilalui akan sama seperti jalur sebelumnya. Ternyata tidak. Curam :’D tiap melangkah berhenti, langkah lagi berhenti lagi. :’D Aish, luar biasa jalurnya

Daaan, akhirnya kita melewati batas vegetasi. Tidak lama lagi kita akan sampai di puncak. Setibanya di puncak, kita bertemu para runner namun kita tidak menemukan wajah pea-nya Om Ayah dan Mamce. “Oh, Om Pulung kayaknya turun ke Surken deh. Yang pro dan duluan sampe pada turun kayaknya,” jawab seorang runner ketika tanyaku tentang Om Ayah. Sambil menikmati kabut di puncak, kita menyantap teh hangat dan pop mie. Inilah salah satu kelebihan gunung gede, banyak pedagang yang berjualan makanan dan membuka lapak. Hihi.

Puncak :D
Badan sudah mulai menggigil, sudah terlalu lama kita menunggu kehadiran Om Ayah dan Mamce :’D Ayah.. Imam.. Cepatlah kembali ke puncak. Huhu. Setelah satu jam kita menunggu, akhinya mereka datang bersama runner yang lain. Yiay! Foto-foto ! Hihihi. Ketika mereka datang, kabut pun mulai hilang. Hiat! Mulai banyak kamera jeprat-jepret mumpung Pangrango terlihat dari puncak.

Selesai foto-foto, kita turun dengan santai. Namun kali ini BB dan Mamce tidak terlihat. Kita berpikir sepertinya mereka turun duluan. Kita pun turun bertiga, Saya, Om Ayah dan Om Dohar –salah satu peserta trail run. Awalnya kita bertiga, kemudian saya berdua sama Om Ayah dan akhirnya sendirian ditinggal Om Ayah. -_- Saya yang masih lugu dan polos saat itu berpikir, “Yaudah sih, turunan gini aja kan. Pasti cepatlah kalo turun.” Namun sayang seribu sayang, dengkul saya cedera ketika turun. Ya, hal ini biasa terjadi di Gunung Gede karena jalurnya yang penuh batu. Bikin kaki sakit! Mau lari, kaki sakit, mau jalan terlalu lambat. Dengan kaki tertatih-tatih pun saya berjalan menusuri hutan.

Rasanya agak sedih, lagi sakit begitu ga ada teman di samping. Walaupun teman juga ga bisa menolong, paling tidak ditemanin :’) Rasanya itu perjalanan paling lama yang saya  rasakan. Setiap ada turunan, saya harus mengambil posisi di mana dengkul kiri saya tidak akan terasa sakit dan itu rasanya memakan waktu. Setelah melewati Curug Cibereum, saya mulai menangis. Kesal karena ga ada yang nemanin, kesal karena jalan ga bisa cepat, kesal karena kaki sakit dan kesal karena turun dari gunung saya masih galau :’D Rasanya pengen nyalahin seseorang  tapi yang salah diri sendiri. Gimana dong ? hihi. Tapi saya merasa ketika mulai melewati curug, ada dua pria yang menemani dari belakang. Kenapa saya merasa ditemani ? karena saya yakin saat itu mereka pasti bisa jalan lebih cepat dari saya bahkan cabe-cabean yang dari curug saja sudah jauh melewati saya. Di situ mulai agak tenang. Mereka menemani saya hingga pos awal pendakian dan di akhir perjalanan, mereka pun baru menyapa saya. Thanks to dua orang pria tak dikenal :3

Sampai di tempat peristirahatan, saya mulai bersih-bersih. Dan ternyata oh ternyata, BB dan Mamce masih di atas. Lutut Imam sakit dan mesti turun pelan seperti saya. Dan akibat menemani Imam yang turunnya terpaksa lambat, dengkul BB pun ikutan sakit. Hihi. Lanjut santap malam! Pasti ini yang BB nanti-nantikan. Makan yang banyak ya bang. Bersyukur malam itu kita dapat tebengan ke Kp.Rambutan. Dan dengan tidak sopannya, saya tertidur di dalam mobil -_- hingga berkali-kali kepala saya terantuk di kaca mobil tidak bangun juga. Padahal yang lain juga sama capeknya namun tidak ada yang tidur. :’) Maafkan.

Kita lanjut dari Kp.Rambutan menuju Slipi dan lanjut lagi ke arah Binus. Yap, dan sepanjang perjalanan saya tertidur dan BB yang menemani saya. Haha. Terima kasih banyak loh Bang Benny. Mau saja vaza repotkan :’D Sekesal-kesalnya saya hari itu, tetap menjadi bagian paling indah dari cerita hidup saya. ^.^

kiri BB, sebelahnya Imam, Paling belakang Om Ayah


Trail Run, 17 Mei 2014

Taman Nasional Ujung Kulon

Saatnya nge-trip! Yuhuuuu! Hihi. Setelah pulang dari trip panjang Lawu-Ijen-Baluran, akhirnya nge-trip lagi. Hehe. Melepaskan penat dari banyaknya tanggung jawab di klinik. J
H-1, Om Reno fix mengajak saya ke Ujung Kulon alias UK. Saya yang di weekend memang tidak pernah ada kerjaan, langsung men-iyakan ajakannya. Yei!

Pukul 20.00 malam saya sudah berada di Halte Busway Cawang. Namun, sampai jam 21.30 barulah bus mulai jalan karena menunggu peserta yang akan dijemput di Halte Komdak –di halte tsb kendaraan tak boleh berhenti lama. Kemudian lanjut menjemput peserta di Tol Karang Tengah.

Pukul 04.00, kita sudah berada di Dermaga Sumur untuk beristirahat dan sarapan. Pukul 08.00, kita mulai menyeberang ke Pulau Peucang. Hari itu sedang ramai-ramainya trip ke UK sehingga kita harus menunggu antrian perahu yang akan menyeberangi kita menuju kapal yang akan digunakan. Pukul 10.00, sampailah kita di Pulau Peucang. Pantainya bening. Sebening wajahnya Nikita Willy :D

                  
Pulau Peucang


Kita bersiap-siap trekking ke Karang Copong. Trekking tsb memakan waktu 2 jam. Tidak terlalu banyak hewan yang bisa kita temukan di sana. Hanya beberapa rusa. Namun, pemandangan di Karang Copong lumayan oke. Rasanya pengen terjun melihat air sejernih itu dari ketinggian. :D Berhati-hatilah ketika berada di Pulau Peucang karena di sana banyak berkeliaran monyet nakal yang akan tiba-tiba mengambil makanan kalian. Saya jadi korbannya -..- Ketika lagi memegang roti, monyet datang dari belakang dan menyergap roti tsb. Bikin jantung deg-degan. Di Pulau ini, juga banyak babi hutan berkeliaran. Jadi kalo mau bertenda di sini, berhati-hatilah dengan keberadaan dua makhluk tsb.

Selesai makan siang, kita lanjut trekking ke Cidaon. Berbeda dengan trek yang tadi, di Cidaon hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk mencapai savana. Kemudian, kita lanjut snorkling di Citerjun. Menurut saya, tempat ini kurang oke untuk snorkling karena sudah banyak terumbu karang yang mati L Sepertinya mas-nya tidak berhenti di spot yang pas untuk snorkling. Dan tibalah waktunya beristirahat menuju Pulau Handeleum.
Pulau Handeleum

Tadaaa! Waktunya makan malam. Asik, ada ikan bakar gede banget. Dan parahnya, Dimas ambil satu ekor! Haha. Padahal satu ikan itu bisa dibagi 3-4 orang. Biarlah :p makanannya memang bersisa banyak. Selesai makan, kita dihampiri oleh dua rusa. Iseng-iseng si Dimas memberikannya makanan sisa kita. Dan mereka mau. Ruru dan Sasa –nama dari Dimas untuk kedua rusa tsb- akhirnya akrab dengan peserta UK lainnya. Bahkan ada yang sampai ngajakin foto bareng *loh, berasa artis ini rusa*. Malam itu, kita dikagetkan dengan kehadiran bintang-bintang yang sungguh luar biasa cantiknya. Wow. Tidak disangka ternyata UK memiliki bintang-bintang yang banyak. Namun, kata Dimas di Karimun jawa bintangnya lebih banyak lagi. Hmm, jadi penasaran.

Akhirnya malam itu, kita berbaringan di dermaga sambil menatap indahnya langit hingga tertidur tanpa menghiraukan Om Reno yang sedang sakit *eh, becanda ding*. Menjelang jam 11 malam, kita bangun dan kembali ke kamar.

Paginya, kita berencana berkanu di Sungai Cigenter. Katanya, kalo pagi banget ke sana, kita akan beruntung bertemu dengak badak bercula yang sedang turun ke sungai. Namun, saat itu kita tidak beruntung untuk bertemu mereka, ditambah lagi kita berangkat sekitar pukul 09.00. namun, kita sempat melihat jejak badak tsb ketika turun ke Sungai. Hihi. Lumayanlah, pelipur lara :p 

Kemudian kita lanjut snorkling di Hoar. Di sini, spot snorklingnya lebih bagus dibanding yang kemarin. Awalnya, kita akan snorkling di dua tempat, namun karena mengejar waktu, selesai snorkling kita kembali ke Dermaga Sumur untuk bersih-bersih dan siap-siap kembali ke Jakarta. Terima kasih @DKKtravel, kalian luar biasa! :D

DKK travel

Yang mau tahu itinerary nya :
Itinerary Wisata
Hari ke 1 
Itinerary Wisata
Hari ke 1
21.00 - 05.00 : Penjemputan Peserta – Halte Komdak - Perjalanan Menuju Sumur.
Hari ke 2
05.00 - 06.00 : Tiba Disumur - Sarapan Pagi - Persiapan Menyebrang
06.00 - 09.00 : Menyebrang menuju Pulau Peucang
09.00 - 09.30 : Tiba di Pulau Peucang
09.30 - 12.30 : Jungle Tracking Menuju Karang Copong , Hunting Foto Flora-Fauna
12.30 - 13.30 : Istirahat, Makan siang, Hunting Foto
13.30 - 14.30 : Padang Savana Cidaon
14.30 - 16.00 : Snorkling Citerjun
16.00 - 18.00 : Menuju Pulau Handeleum Check In Homestay
18.30 - 19.30 : Bersih-Bersih & Makan Malam
20.00 - 22.00 : Menikmati Ikan Bakar Acara Bebas
22.00 - 05.00 : Istirahat
Hari Ke 3.
06.00 - 06.30 : Sarapan pagi
06.30 - 07.00 : Persiapan Berkanu
07.30 - 09.30 : Berkanu di Sungai Cigenter
10.00 - 11.30 : Packing Barang Persiapan Pulang
11.30 - 12.30 : Makan Siang di Dermaga Handeleum
12.30 - 15.30 : Kembali ke Sumur ( Snorkling Pulau Badul & Hoar )
15.30 - 16.30 : Tiba Di Sumur Cofee and Tea Break,Bersih-bersih
16.30 - 23.00 : Kembali Kejakarta
Note Itinerary dapat berubah sewaktu-waktu dalam kondisi tertentu dan keadaan Cuaca buruk
Destination Spot :
1. Pulau Peucang
2. Padang savana Cidaon
3. Karang Copong
4. Pulau Handeleum
5. Sungai Cigenter
6. Snorkling : Citerjun, Pulau Badul, Pulau Hoar
Packet Trip Include:
01. Transportasi Mini Bus AC pariwisata (Start From Jakarta)
02. Kapal 2 Hari
03. Penginapan Pulau Handeleum (sharing Room cowo dan cewe dipisah)
04. Makan 5 Kali ( 2X Sarapan pagi, 2X Makan Siang, 1X Makan Malam)
05. 1 X Barbeque Ikan Segar.
06. Sewa Kanu - Berkanu di sungai cigenter
07. Coffe and Tea Break
08. Tiket Masuk + Asuransi
09. Ranger Guide
10. life Jacket
11. Guide Start From Jakarta
12. P3K
13. Sunblock
Cost Trip Exclude :
Sewa Snorkels
Untuk Penyewaan Snorkels mohon Konfirmasi sebelumnya.


Another Story of Papandayan

Setelah sebelumnya pergi ke Gunung Papandayan, kali ini saya berangkat bersama pacar ke Papandayan. :3 Berhubung hari Senin, tanggal 31 Maret libur, kita menggunakan hari Sabtu dan balik Minggu agar Seninnya kita bisa istirahat dengan puas.

Awalnya, kita berencana untuk camping di Papandayan, namun karena masalah waktu dan persiapan yang kurang, akhirnya kita memutuskan untuk tektok. Hari sabtu malam ,kita berencana untuk ke kampung rambutan menggunakan taksi. Ternyata, Om nya Rakha menawarkan diri untuk mengantar kita ke Pasar Rebo. Alhamdulillah, makasih Om. :D

Selanjutnya, kita menunggu bus jurusan Jakarta-Garut. Namun, karena Long weekend, bus jurusan Garut selalu penuh ketika sampai Pasar Rebo. Kita kemudian memutuskan untuk pergi ke Kp.Rambutan mengambil bus jurusan Kp.Rambutan-Garut. Jangan khawatir untuk ketinggalan bus ke Garut karena bus ini stand-by 24 jam. Jadi kalo knek nya teriak, “Bus akhir ke Garut.” Jangan pernah percaya. :p

Waktu telah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Kita sampai di Terminal Guntur, Garut pukul 05.30. Selesai sholat shubuh, kita mengambil angkot ke Cisurupan. Setelah 45 menit, sampailah kita di Cisurupan. Di sana, kita membeli makanan untuk persiapan trekking nanti. Di dekat pasar, ada yang jual nasi kuning dan ayam -saya suka ayamnya, enak :3- Setelah packing, kita lanjut naik ke atas menggunakan ojek. Awalnya sih kita berencana mau naik mobil pick up, namun berhubung saya belum pernah naik ojek ke atas dan Rakha pun juga prefer milih ojek, yaudah kita ke atas naik ojek deh. Seru! Sensasinya beda :p Kalo naik pick up, beberapa kali kita mesti turun dari pick up karena mobil tidak kuat naik ke atas. Kalau naik ojek, kita ga perlu turun ketika tanjakan, tapi ketika masuk lubang dan jalan licin, ya mesti turun juga. Tapi naik ojek jauh lebih cepat dibanding naik mobil pick up.

Sampai di atas, kita istirahat sebentar dan lanjut trekking. Papandayan itu dari awal trekking hingga mencapai Tegal Alun. Di awal, kita disungguhi pemandangan serba putih dari kawahnya, kemudian melewati hutan mati –yang kata orang-orang bagus buat foto pre-wed :3 dan Tegal Alun, lapangan edelweis. Hihi. Cukup memakan waktu 7 jam untuk tektok Gunung Papandayan dan itu pun termasuk berleha-leha di hutan mati dan tidur-tiduran di Tegal Alun. Berhubung ini yang ketiga kalinya saya ke Papandayan, jadi udah pro buat tunjukin jalurnya *boong ding, pas turun sempet nyasar.*


Kita sudah tiba lagi di pos sebelum pendakian ketika magrib. Malam itu sangat ramai. Banyak mobil pick up yang akan mengangkut pendaki turun. Bersyukurlah kita saat itu karena biasanya sudah tidak ada pick up yang stand by ketika malam. Kita mencari truk yang masih bisa kita tebengi untuk mencapai Cisurupan.

Biasanya, setelah sampai Cisurupan kita menggunakan angkot untuk mencapai terminal. Namun, berhubung ketika waktu itu sudah jam 9 malam dan tak ada lagi angkot yang lewat, kita lanjut ke terminal menggunakan mobil pick up. Dari terminal, kita berangkat ke jakarta pukul 00.00. Kok baliknya malam banget ? Karena saya sempat tertidur di mesjid. >,< Pukul 05.00 kita sudah sampai di Kp.Rambutan. Finally! Home. Saatnya tidur, lelah tak bisa lagi ditahan. :D